Pengalaman Tes Tahap II AFS/YES YP 15-16 Chapter Palembang

18 Mei 2014

Gue bener-bener gak nyangka bisa sampe ke tahap ini. Dengan bermodal doa, gue lanjut deh ke tahap wawancara yang 'katanya' asyik. Di tahap wawancara ini, ada dua tes yang bakalan diujikan. Tes wawancara kepribadian sama wawancara Bahasa Inggris. You know, udah lama banget gue gak ngemeng English jadinya pasti kaku banget.

Nah, pas baru dateng, gue langsung nyamperin Rara, Dian, Dhea, Fajar yang udah nunggu di kursi depan ruang tes. Si Tatak kayaknya belom dateng, karena anak Smansa duduk di line kursi paling depan semua. Oke, suasananya mencekam banget. Mana gue duduk paling ujung kanan dan gue punya firasat buruk tentang kursi yang sedang gue duduki ini.

Setelah sesi mencari-tempat-duduk ini selesai, ada perkenalan dari volunteer dan kakak-kakak alumni YES & AFS. Tiba-tiba mata gue tertuju sama seseorang, Kak Sakinah. Well, I know her. Gue pernah ikut Speech Contest dan dia adalah lawan gue. Tapi gue gak sanggup nyebutnya 'lawan' karena perbandingannya gak seimbang banget :v Dia Englishnya udah master dan gue masih cetek. Dan di sesi perkenalan itulah, gue tahu bahwa Kak Sakinah bakalan ke Swiss di program AFS tahun ini. Gila! Hebat banget kan? Selain pinter dan hijaber, dia juga cantik.

After that, nama kita di absen. Gue urutan ke-45 alias gue adalah orang ke-45 yang lolos di tahap ini (berdasarkan urutan nomor peserta, mengingat nomor peserta gue adalah YBA/YP15-16/PLM/0157). Kalo gak ngerti lupain aja :v , wkwk. Jadi menurut gue, gue aman-aman aja dong, karena gue masih bisa prepare berhubung gue di nomor 45. Tapi, kayaknya Dewi Fortuna lagi gak memihak.

"Baiklah, dengan ini kita buka tes tahap II untuk AFS/YES ini. Peserta nomor satu, dimulai dari yang paling kanan ini"

Jeng-jeng-jeng. Gue? Gue nomor satu!

Alhasil dengan muka sedikit memelas, gue masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan.

"Silakan duduk" ujar bapak pewawancaranya. Gue ngangguk, senyum, dan menjatuhkan pantat gue di kursi empuk warna merah merona yang bisa dibilang empuk banget, wkwk.

"Siapa namanya? Bisa ceritain tentang diri kamu?" tanya si bapak lagi. Gue, dengan 'bakat' bercerita gue. Atau gak boleh disebut bakat kali, ya. Hobi aja mungkin lebih tepatnya. Oke, gue dengan hobi bercerita gue itu, gue ceritain diri gue yang sebenernya.

Percakapan di awal, terasa menyenangkan. Tapi ini baru sesi perkenalan. Gak lupa, jurus andalan gue biar gak keliatan gugup; senyum.

Tibalah seusai perkenalan ringan, gue udah ditanyain tentang Indonesia.

"Menurut kamu, Indonesia itu gimana?"

Gue ngejabarin Indonesia yang sebenernya punya banyak sumber daya alam, tapi sedikit sumber daya manusia. Aduh bahasa gue njelimet banget. Dan akhirnya gara-gara jawaban gue yang njelimet itu, gue malah ditanya ini-itu, pertanyaan berat, dan sedikit banyak adu argumen di sesi ini. Gue merasa failed banget pas gue ngemukakan pendapat absurd gue. Gue jadi keinget cerita kakak-kakak yang pernah tes AFS/YES juga, mereka cerita di blog, saran dari mereka, gue harus bawa suasana agar gak menjerumus ke pertanyaan-pertanyaan ribet. Namun gue udah masuk ke jurang pertanyaan ribet itu.

"Indonesia banyak kok sumber daya manusia. Mana buktinya gak banyak? Contohnya aja mereka banyak ke luar negeri dan tenaga mereka dibutuhkan" ujar bapak pewawancara. Sumpah pas ditanyain ini gue mau pipis banget.

Tapi lagi-lagi, dengan senyum gue menjawab "Memang banyak kok yang seperti itu, Pak. Tapi bukankah, mereka, para sumber daya manusia yang hebat itu, memayoritaskan bekerja di luar negeri ketimbang di Indonesia. Karena gaji di Indonesia ini tidak sebesar gaji di luar negeri. Mereka kerap lupa akan negara mereka dilahirkan sendiri. Padahal juga di Indonesia mereka tumbuh, namun mereka hilang, pergi ke luar negeri, dan hampir semua dari mereka kurang memiliki inisiatif untuk membangun sumber daya manusia di Indonesia menjadi lebih banyak lagi. Itulah sebabnya mengapa sumber daya manusia di Indonesia kurang memadai, Pak"

"Oh, begitu. Bagaimana dengan TKW?"

Gue ngejawab lagi. Tapi argumen gue dibantah. Lagi dan lagi. Sehingga sesi ini adalah sesi yang lama banget. Gak kelar-kelar. Perut gue udah mules banget.

"Bakat kamu apa?"

Buset, ditanya kayak gini gue pengin banget jawab : Bakat saya tidur dan makan, Pak. Tapi tertahan di mulut gue. Yang keluar cuma "Menari, Pak"

Gue jadi keinget lagi, kalo menjawab pertanyaan di babak ini harus jujur sejujur-jujurnya. Karena kejujuran disini bakal dipertaruhkan. Emang sih, bakat gue tidur sama makan doang. Tapi masa gue bilang gitu? Untungnya deh gue pernah belajar nari. Jadi seenggaknya bakat gue gak malu-maluin.

"Coba kamu nari"

Jleb. Oke, gue udah lupa gerakan-gerakannya sebenernya. Tapi pas denger lagu tari tanggai, gue jadi inget lagi gerakannya. Dan gue nari tanggai. Tarian pembukaan dalam acara pernikahan di Palembang.

Gue dapet applause dari bapak pewawancara. Sambil bertanya dalam hati 'dimana letak bagusnya?'. Tapi itu sih yang buat hati gue agak lega, karena dari tadi tegang mulu. Meskipun gue tegang gue tutupin sama senyuman *halah.

All you have to do in this case is, be honest!

Setelah sekitar sejam gue diwawancara. Akhirnya selesai juga. Dan masih ada satu wawancara lagi yang harus gue hadapi; wawancara Bahasa Inggris. Dan yang wawancarain gue itu ada dua orang. Yang satunya, kakak dari Bandung dan yang satunya lagi.... KAK SAKINAH. Aduh! Mati gue. Englishnya kayak orang barat beneran.

Di wawancara Bahasa Inggris ini. Gue sempet stuck. Aduh gila banget! Malu-maluin. Disini ditanya nama, keseharian gue ngapain, terus kenapa pilih negara tujuan Amerika, terus ditanya takut gak ke Amerika soalnya kan pake jilbab, jilbabers kan dikira teroris.

Gue jawab yang itu dengan tenang. Tapi pas ditanya Kak Sakinah. Gue cuma bisa melongo dan bilang "Yes! No! Yes! No!"

Awkward! Kenapa English gue bisa segitu buruknya? Kenapa gue gugup banget?

Sampe akhirnya gue ditanya "What do you think about 'best leader'? And do you think that you have it in your ownself?"

Gue cuma bisa jawab "Ngg..." Gak tahu sumpah gue pengin pulang aja. Gue stuck banget. Gak tahu lagi mau jawab apa. Setelah Kak Sakinah dan kakak dari Bandung itu saling tatap. Mereka mengakhiri wawancara. Wawancara Bahasa Inggris ini cuma memakan waktu sepuluh menit. Kayaknya gara-gara gue stuck deh.

Argh! Pas sampe rumah. Gue nangis. Gue udah psimis duluan dengan hasilnya. Tapi masih aja gue berharap dan berdoa agar gue lolos di tahap ini.

2 weeks later...

Ceritanya lagi lintas minat Sosiologi. Gue lagi senyam-senyum sendiri. Iya dong, gue lulus tes OSIS. Makanya gue seneng banget. Berhubung tes OSIS ini banyak yang daftar dan seleksinya ketat.

"Syaf? Lulus gak?" tanya Fajar, yang juga ikut lintas minat Sosiologi.

"Alhamdulillah lulus, Jar. Gue gak nyangka banget bisa lulus di tes OSIS ini. Gue jadi dapet saudara baru" jawab gue, enteng.

"Bukan Syaf. Bukan tes OSIS. AFS? Lulus gak?"

"Hahhh??"

"Pengumumannya udah keluar. Lo lulus gak, Syaf?"

"Lo sendiri lulus, Jar?"

"Alhamdulillah gue lulus"

Gue mau nangis di tempat. Fajar lulus. Gue rasanya gak mau tahu pengumumannya. Karena gue takut menerima kenyataan. Tapi akhirnya, setelah didesak Fajar, gue buka itu website. And the result is..


Sumpah. Rasanya gue pengin meluk orang-orang di sekitar gue. Gue gak nyangka banget. Ternyata, Allah masih ngasih kesempatan buat gue lulus di tahap ini. Gue seneng banget. Tapi ada yang lebih ngagetin gue dari sekedar 'lulus'.


Nama gue ada di atas :') . Gue gak nyangka banget. Trims buat bapak pewawancara kepribadian yang ngasih nilai sempurna ke gue. But by the way, nilai Bahasa Inggris gue malu-maluin banget. Tapi gak apalah, yang penting gue bisa lulus ke tahap III. Oh iya, yang lulus dari Smansa makin sedikit aja. Cuma gue, Fajar, Dhea, Rara, Berce, sama Tatak. Ada 69 orang yang berhasil lolos di tahap II ini. Which means, ada 69 peserta yang bakal ikut lagi ke seleksi tahap III. Hwaiting! Pengalaman seleksi tahap III bakalan gue share deh next post. Bye!

Komentar

  1. what agreat story from you kak;)thanks for being my motivator for this article

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks for visiting mine! ^^ Just lemme know if you get accepted in AFS/YES

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer