Dua Cinta Dalam Satu Hati

Aku tak sekalipun bisa menerka, kapan datangnya rasa ini. Entah ketika senja berubah warna, atau saat sang pelangi mengeluarkan lekuk indahnya. Sejak awal, tiada sedikitpun kuharapkan perasaan ini bisa tumbuh. Dua cinta dalam satu hati. Rumit, memang.

Aku mencintaimu. Juga, mencintainya. Dua sosok yang kehidupannya sungguh kontras. Kamu adalah sesuatu yang memang selalu aku harapkan, namun dia juga sesuatu yang selalu aku impikan. Aku sungguh menyukai aroma parfum Axe-mu yang kuat, dan aku juga menyukai wangi peppermintnya yang menguar tenang. Kamu dan dia. Dua orang satu rasa. Perasaanku memang sama, sudah masuk dalam kategori mencintai.

Kamu, seseorang yang tak pernah luput dari senyum. Kamu hangat, berada di dekatmu membuat perasaanku lebih damai. Kamu dewasa, sudut pandangmu selalu bisa membuatku melihat potret lain. Kita sama, sama-sama penyuka paragraf. Dan penggila Cappuccino cincau. Bagaimana aku bisa tidak mencintaimu? Sialnya, rasaku bertepuk sebelah tangan. Lagi. Kamu mungkin hanya memberi asa, tapi tak pernah memberi rasa. 

Dia, seseorang yang tak pernah mengumbar senyum. Dia dingin, namun berada di dekatnya membuat hatiku sejuk, terhibur, entah hal apa yang akan diciptakannya untukku. Dia memang seperti hati, dekat, namun tak bisa kugenggam. Dia adalah impian setiap gadis, dan aku hanya segelintir makhluk yang tak sengaja jatuh hati kepadanya. 

Ada kalanya, aku dituntut untuk memilih, tetapi aku menginginkan keduanya untuk dipilih. Tidak ada perasaan yang lebih dominan, aku mencintai keduanya.

Ini memang tentang rasa. Dua cinta dalam satu hati. Sesuatu yang seharusnya aku hindari, karena ketika terjebak, sulit rasanya untuk harus berkutik lagi.

Tuhan, kumohon berilah petunjukMu. Satu hatiku tidak pernah ingin kubagi. Tetapi rasa ini tiba-tiba ada, menggerogotiku, membuat akal sehatku seringkali tak bisa mencerna secara sempurna.

Karena memiliki dua cinta dalam satu hati tak semudah menulis tulisan ini.

Komentar

Postingan Populer