Sebilah Rasa

"Aku menyayangimu"

Deg. Aku hanya mampu menelusuri bola matanya. Ada ketulusan yang tersisa. Mata itu, sepasang mata yang dulunya kerap menemaniku latihan drumband, sekarang berada di depanku, menawarkan rasa. Yang dahulu menawarkan sebotol air mineral untukku. Yang dahulu sering membelikanku gorengan di sudut sekolah. Sekarang berganti memasang wajah serius.

                                                                        ***
Suasana dalam ruang kelas ini hening. Memamerkan deretan siswa-siswi dari berbagai penjuru sekolah yang ingin memasuki ekstrakurikuler kebanggaan sekolahku, drumband. Sebagai pembukaan, para senior memperkenalkan diri mereka masing-masing. Dan aku, salah satunya. Dengan senyum yang seakan tertahan, aku berdiri di depan kelas, di depan mata-mata asing yang sebentar lagi resmi menjadi juniorku.

"Gue Daniela Rahayu. Kalian bisa panggil gue Kak Ayu, kok" tukasku memecah keheningan "Gue pegang alat tenor dulunya"

Begitulah kurang lebih yang aku sebutkan. Dan setelah sesi perkenalan senior usai, sekarang berganti dengan perkenalan junior baru kami. Semua tidak ada yang menarik perhatianku, sungguh. Dengan begitu pikiranku tidak lagi terpusat pada mereka, aku hanya membolak-balikkan halaman novel yang sempat kubaca di rumah itu. Novel yang membosankan, namun memiliki plot yang menarik.

"Nama gue Rio. Gue gak punya nama panjang. Jadi nama gue tetap Rio"

Refleks, aku mengalihkan perhatianku pada sosok yang tidak-memiliki-nama-panjang itu.

"Alasan masuk drumband.. karena pengin belajar main alat-alatnya, dan pengin tambah pengalaman"

Teman-teman angkatanku mengangguk. Namun hanya aku yang masih menatapnya lurus dengan tatapan dingin.

"Pengalaman apa yang lo maksud?" tanyaku, sedikit menghardiknya, mungkin. Tetapi tidak, aku tidak ingin menghardiknya. Aku hanya ingin tahu lebih jauh dengan apa yang telah ia bicarakan tadi.

"Pengalaman...." ia sepertinya memutar-mutar otaknya, kemudian membalas tatapan lurus mataku. Aku tertegun, ada desiran aneh yang melintas melewati hatiku. Tetapi mungkin hanya imajinasiku saja.

"Duduk, lo gak perlu jelasin lebih lama lagi. Gue udah tahu apa yang bakal lo bicarain" ucapku. Dan ia tersenyum lalu mengangguk dan berkata terima kasih padaku.

Dan tahukah? Ada yang mengusikku dari senyumnya.

                                                                             ***
Hari ini, pembagian alat-alat yang akan junior-juniorku mainkan. Kami sepakat untuk membaginya berdasarkan tinggi badan. Setelah semuanya fix, kami mulai mengajari para junior dengan pukulan-pukulan sesuai alat masing-masing. Aku? Kebagian mengajar alat tenor bersama tujuh teman temanku. Setidaknya, ada lima belas junior yang memegang alat ini. Jadi kami membagi setiap senior dengan dua junior. Tetapi tidak untukku, aku kebagian mengajari satu junior.

Aku lupa siapa nama lelaki bermata oval itu. Yang aku ingat, ia tidak memiliki nama panjang dan ia sekarang tengah duduk di depanku dengan tatapan penuh selidik. Hingga pada matanya berhenti di dadaku, aku dengan segera menghalangi pandangannya.

"Apa yang lo liat?!" bentakku tegas. Ia tertawa kecil.

"Oh, jadi nama kakak, Kak Daniela"

Aku menghela nafas berat "Kemarin lo gak perhatiin gue, ya? Panggilan gue Ayu, tuh. Telinga lo kemana?"

"Maaf kak" ucapnya dengan wajah yang menunduk. Mungkin aku yang sungguh keterlaluan, hanya gara-gara ia tidak memerhatikanku dan tidak tahu namaku, mengapa aku bisa jadi se-sensitif ini?

"Oh iya, nama lo siapa?" aku bertanya, lagipula ia tidak memasang namanya di seragamnya.

"Kemarin kakak gak perhatiin gue, ya? Telinga kakak kemana?"

"Jadi lo berani bentak senior?!" aku meninggikan nada bicaraku sehingga beberapa orang memusatkan perhatiannya padaku. Lelaki di depanku ini menampakkan wajah kalutnya dan kembali menunduk. Aku tahu, tadi ia hanya ingin mencairkan suasana dingin yang terjalin diantara kami. Ah, mengapa aku begitu sensitif.

"BERCANDA" ucapku tanpa ekspresi. Ia melongo. Mungkin ia mengira aku gadis aneh. Aku kemudian tertawa lepas sembari memegangi perutku hingga wajahku memerah. Dan tawaku seketika terhenti melihat ekspresinya. "Lo kenapa gak ketawa?"

Ia memamerkan deretan gigi putihnya secara paksa, membentuk senyuman, tetapi tak terlihat seperti senyuman "Hehe, gak ada yang lucu kak" ia berkata sembari menggaruk-garuk kepalanya. Mungkin bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan absurdku barusan.

"Ya udah, sekarang gue mau ngajarin lo tentang alat yang bakal lo mainin ke depannya" aku mencoba menjelaskan, ia mengangguk sambil memerhatikanku dalam diam. Sungguh, aku sangat ingin mengabadikan ekspresi wajahnya kala ini.
                                                                         ***

Hari demi hari, bulan berganti bulan. Aku telah mengajari pria itu banyak hal. Hingga aku tahu, bahwa sekarang ia sudah mahir bermain tenor. Entah mengapa aku begitu bahagia melihat bagaimana ia hari ini. Dari yang pada mulanya buta pukulan drumband, sekarang aku boleh menyebutnya master. Lelaki bermata oval ini juga sangat tahu bagaimana caranya menghiburku.

"Kak, ini.." ia menyodorkan sebotol air mineral, juga sebungkus kantung berisi gorengan. Sontak aku langsung meletakkan tongkat mayoretku ke tanah, kemudian langsung menyerobot bakwan yang tersedia di dalam kantung tersebut.

"Makasih ya" ucapku. Benar kan? Ia adalah sosok yang paling mengerti aku. Ia yang menemaniku berlatih tongkat. Juga ia yang selalu menyemangatiku ketika tongkat mayoretnya tidak jatuh tepat di dalam genggamanku.

Perlahan aku mulai menyadari, tanpanya aku benar-benar merasa sepi. Sejak awal, mungkin aku telah menyukainya. Namun bagaimana mungkin? Ia adik kelasku, juniorku, aku ini kakak kelasnya, mungkin aku akan disebut tante-tante oleh teman-teman seangkatanku jika menyukai adik kelas. Memang terkadang mencintai bisa serumit ini, ketika cinta telah tiba, situasi bisa membuatnya pergi lagi.

Cinta memang kerap kali datang karena terbiasa bersama. Aku telah banyak menghabiskan momen bersama Rio. Tetapi tetap saja, cinta antara kakak kelas wanita dan adik kelas lelaki itu terasa janggal di sekolahku.

Tahun demi tahun, kami memilih universitas yang sama. Sekarang, ia adalah adik tingkatku di universitas, meskipun mengambil jurusan yang berbeda. Telah terjadi banyak perubahan antara hubunganku dengan Rio. Aku yang awalnya kerap bersikap dingin, sekarang telah mulai mencair karena ulahnya yang selalu bisa membuatku tersenyum. Kami yang awalnya menggunakan kata ganti 'gue-lo', sekarang telah menggunakan 'aku-kamu' yang aku sendiri tidak tahu sejak kapan hal itu terjadi.

Dan tempat favorit kami di kampus adalah taman pusat kampus yang letaknya di sebelah kiri fakultas pertanian. Di bangku panjang berwarna coklat dekat lampu neon kedua di taman ini.

"Ayu" memang, memang semenjak lulus. Aku tak pernah lagi menyuruhnya memanggilku dengan sebutan kakak.

"Hmm?" aku menatapnya, dalam. Begitu inginnya aku memeluk pemilik mata coklat ini.

"Aku menyayangimu"

Deg. Aku hanya mampu menelusuri bola matanya. Ada ketulusan yang tersisa. Mata itu, sepasang mata yang dulunya kerap menemaniku latihan drumband, sekarang berada di depanku, menawarkan rasa. Yang dahulu menawarkan sebotol air mineral untukku. Yang dahulu sering membelikanku gorengan di sudut sekolah. Sekarang berganti memasang wajah serius.

"Yu, aku mungkin terlalu muda ya buat kamu?" ia sedikit berdeham, masih dengan tatapan dalamnya untukku.

"Rio" aku membeku, hanya mampu mengucap satu kata, hanya namanya yang bisa terlontar di bibirku.

"Kamu boleh anggap aku junior kamu selama di SMA, bahkan aku tidak bisa mengubah takdir bahwa aku lebih muda darimu. Tapi tolong, aku ingin kamu percaya bahwa aku menyayangimu, Yu"

Aku cekikikan, berusaha mencairkan suasana canggung ini. Raut mukanya berubah drastis "Gombal!"

Selama beberapa detik, kami terdiam, nyatanya kami masih terjebak dalam suasana canggung. "Rio, mungkin ada sebilah rasa yang udah timbul ketika awal aku ngeliat kamu pertama kali"

"Eh?"

"Aku udah suka sama kamu dari awal. Dari awal kamu masuk drumband. Tapi aku gak nyangka, aku sudah bisa sampai sejauh ini"

Aku tak pernah mengira bahwa sebilah rasa yang kusembunyikan ini selalu hadir, bahkan terbalaskan. Aku juga tak pernah bisa mengira bahwa sebenarnya mencintai pria yang lebih muda itu tak selalu salah.

Komentar

Postingan Populer