Sebatang Cokelat
Aku yang awalnya menganggap semua ini biasa, aku yang pada mulanya tak pernah menyadari bahwa hal ini luar biasa. Perjalanan kita sudah cukup panjang, mungkin perpisahan telah hampir hadir di depan mata. Memoriku terhenti pada momen sebatang cokelat yang kau berikan padaku. Tidak, meskipun kau tidak memberinya atas dasar keinginanmu, melainkan permintaanku, tetapi aku masih tak mampu menghapus senyummu dari ingatanku.
Senyummu, yang akhir-akhir ini bisa mendamaikan. Yang akhir-akhir ini membuatku nyaman serta tetap tenang. Juga selalu jadi penyejuk batin di kala gundah.
Hadirmu, meski hal ini yang paling kuharapkan, aku tak boleh berharap banyak.
Kadangkala aku merasakan momen yang telah kita lewati semanis batang cokelat yang telah kau beri. Tapi tak jarang aku merasakan pahitnya. Dan ini semua tentang rasa.
Senyummu, yang akhir-akhir ini bisa mendamaikan. Yang akhir-akhir ini membuatku nyaman serta tetap tenang. Juga selalu jadi penyejuk batin di kala gundah.
Hadirmu, meski hal ini yang paling kuharapkan, aku tak boleh berharap banyak.
Kadangkala aku merasakan momen yang telah kita lewati semanis batang cokelat yang telah kau beri. Tapi tak jarang aku merasakan pahitnya. Dan ini semua tentang rasa.

Komentar
Posting Komentar