Empat Tahun Setelah Semuanya Bermula

Kamu masih ingat hari ini? Pukul setengah empat lewat sepuluh menit. Diatas jembatan kecil berisi puluhan ikan koi warna-warni di bawahnya. Udara di ingatanku terasa sejuk, tatkala mentari menyembul malu-malu. Banyak yang lalu lalang di sekitar kita, namun kurasa  dunia ini hanya milik kita berdua.

Aku mengucir rambutku ke belakang, dengan kucir rambut kabel telepon dan menyisakan beberapa helai poni yang menutupi alisku setengah mili. Aku mengenakan jam karet berwarna biru, sepatu sport putih, jeans hitam ketat, serta baju lengan pendek berwarna biru tua yang serasi sekali dengan kulitku yang kuning langsat. Kamu juga memakai kemeja biru, dengan topi yang warnanya aku lupa, sangat manis ditambah senyummu yang paling indah menurutku pada masa itu.

Aku masih kelas tujuh. Kuulangi lagi, kelas tujuh. Baru saja mengalami fase pubertas. Dan kamu telah duduk di kelas sembilan, yang tak pernah kusangka bahwa seiring berjalannya waktu, perbedaan kelaslah yang menyebabkan perpisahan kita.

Berhari-hari aku memulai percakapan denganmu. Aku nyaman. Tidak perlu kupungkiri lagi. Hingga akhirnya tepat 24 Mei 2011, kamu menyatakan sesuatu yang pertama dalam hidupku. Yang membuat hidupku menjadi berubah seketika. Yang membuat hariku menjadi selalu semangat. Yang membuat prestasiku menjadi meningkat drastis. Meskipun aku tahu, pada dasarnya, hal-hal baik itu merupakan bonus saja, bukan kamu yang mengakibatkannya.

Kurasa cinta memang seperti kopi susu. Manis, namun sebenarnya pahit. Aku telah merasakan bagaimana manisnya perlakuanmu padaku, hingga aku mampu menenggak pahitnya. Kamu tidak perlu khawatir, dulu kamu meninggalkanku karena aku masih terlalu muda untukmu. Dan sekarang aku sadar, bahwa kamu lah yang terlalu tua untukku. Awalnya memang aku sangat meratapi perpisahan kita, tetapi yang aku tahu, perpisahan kita sungguh membawa berkah yang tak terkira.

Apa yang terjadi padaku hari ini, merupakan hasil perpisahan kita. Terima kasih, karena aku tahu bahwa kamu adalah pengecut, pembohong, seseorang yang selalu tak pernah menepati janjinya. Sekarang aku telah tujuh belas tahun, kerap kali aku tertawa karena kebodohan-kebodohanku dulu. Sungguh, aku berterima kasih pada Tuhan atas perpisahan kita. Mungkin jika Tuhan tidak memisahkan kita, aku tidak tahu apakah aku masih bisa disebut suci.

I remember, date and time. August 22nd sunday twenty five after nine. (The Day You Went Away - M2M)

Terima kasih, karena melupakanmu adalah bagian tersulit yang pernah aku lewati. Tetapi aku berhasil melewatinya. Aku berhasil melupakan semua kenangan tentangmu. Aku berhasil mengontrol diriku tak terjebak dalam masa lalu. Aku berhasil tidak menangis seperti yang kulakukan ketika kamu meninggalkan aku dengan wanita jalang itu. Berhari lamanya aku mengurai tangis, dan kusadari betapa bodohnya seorang gadis yang belum genap berusia tiga belas tahun menangis karena putus cinta. Konyol sekali.

Empat tahun setelah semuanya bermula, kamu tetap jadi idola para gadis. Kamu telah temukan penggantiku yang hingga sekarang kamu masih tetap bertahan dengannya. Aku juga telah temukan penggantimu meskipun satu dari mereka belum berstatus sama sepertimu. Namun itu tidaklah penting, aku belajar satu kesalahan darimu dan aku tidak akan melakukannya lagi.

Aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Bahkan sekali lagi.

Aku tidak akan pernah lagi pacaran.

Komentar

Postingan Populer