Surat Kecil Untuk Tuhan

Tuhan, hari ini aku ingin bercerita. Bukan tentang orang-orang terdahulu yang pernah kuceritakan padaMu, melainkan tentang umatMu yang namanya selalu kuselip dalam doa usai solat Fardhu. Ia yang tiap detailnya kuketahui, yang tiap harinya membuatku semangat menghabiskan 24 jam yang makin kurasa begitu singkat. Tuhan, ia adalah umatMu yang taat. Tanpa kupinta pun, Engkau pasti sangat menyayanginya sebagai sosok yang beriman. Dan aku mohon, semoga imannya takkan pernah goyah seiring dengan ujianMu.

Tuhan, aku menyayanginya. Namun aku tahu bahwa Kau lebih menyayanginya. Dan aku ingin bertanya, bolehkah aku ber-asa sedikit lebih tinggi? Bolehkah aku tiap malam ber-angan tentangnya? Dan bolehkah kujadikan ia sebagai alasanku mengerjakan seluruh PR di malam hari? Bolehkah aku meminta padamu, agar Kau bolak-balik hatinya untuk menyayangiku jua? Tuhan, maafkan aku jika aku terlalu tinggi meminta. Rasanya sulit kupercaya, bahwa aku pantas untuknya. Maka dari itu, aku mulai belajar memantaskan diri. Memantaskan diri untukMu, Tuhanku. Agar kelak Kau beriku sosoknya, atau bahkan orang lain yang Kau pilihkan untukku. Walau pada saat ini aku masih menginginkannya. Tuhan, Kau gores ia dengan sosok yang hampir sempurna. Berhati bersih, sederhana, lembut, menenangkan. Tak heran, jika bertahun menyukainya pun aku tak pernah lelah. Meskipun tiada percakapan diantara kami, hanya sebait dua bait kata dalam sehari percakapan, atau sebulan percakapan, atau hanya setahun percakapan, entahlah. Aku hanya bahagia melihatnya tersenyum dari jauh, mengaguminya dalam angan.

Tuhan, rasa ini fitrah dariMu. Apa aku menyukai orang yang salah? Banyak gadis yang lebih baik, lebih cerdas, lebih banyak ilmu agamanya dariku. Para gadis itu mencintai ia, Tuhan. Ia yang sebelum tidur aku doakan, yang ketika bangun tidur aku pikirkan. Meletakkan rasa padanya membuatku semakin ingin dekat padaMu, Tuhan. Aku tidak punya cara mendekatinya, menyapanya duluan pun tak punya nyali, aku mungkin tidak seperti Khadijah yang bisa menyatakan perasaannya pada Nabi Muhammad SAW. Aku hanya berdoa, berharap Engkau memberiku mukjizat. Usahaku hanyalah berdoa. Dan aku tidaklah berhak berbuat apa-apa selagi ia bukan mahramku.

Ketika sholat, aku melihat punggungnya yang kokoh dari shaf wanita. Suara iqomahnya merdu sekali, menentramkan jiwa. Kadang aku berharap anak laki-lakiku kelak akan mewarisi sifatnya. Tuhan, mungkin aku berdosa, atau mungkin aku memang salah untuk berharap ia jadi imam di keluargaku sepuluh atau bahkan dua puluh tahun lagi. Di satu hari dalam satu minggu di kelas, aku selalu berharap sosoknya memerhatikanku. Atau itu hanya imajinasiku? Tuhan, yang terpenting, aku hanya ingin berterima kasih, Engkau telah pernah memberiku waktu berdua saja dengannya. Berdua saja dalam percakapan ringan. Berdua saja agar aku mampu mengenalnya lebih jauh lagi. Sungguh, tidak pernah aku melintasi maksiat dengannya dalam khayalku, karena aku tahu, atau lebih tepatnya kami berdua tahu, bahwa Engkau, Tuhan kami selalu mengawasi kami, dan tidak pernah membiarkan kami berdua saja terbuai rayuan setan.

Kuhitung, sekali aku duduk dengannya. Dua kali aku berdiri disampingnya. Yang pertama, di bawah rinai hujan yang menyembul malu-malu. Dan yang kedua, di bawah kelap-kelip sorot lighting panggung. Mungkin ia adalah sesuatu yang memberiku energi baru untuk menulis.

Tuhan, jika ia memang jodohku, maka dekatkanlah. Aku tahu, aku masih sangat belia untuk memikirkan sesuatu yang belum boleh kupikirkan tersebut. Jika jalannya masih panjang dan bertebing, maka permudahkanlah aku melewatinya. Namun jika ia bukan sama sekali yang terbaik untukku, maka izinkan aku memberi namanya kepada anak laki-lakiku nanti.

Terima kasih, Tuhan.

Komentar

Postingan Populer