Senyuman Terindah

Empat tahun lalu, aku tengah menunggu angkutan umum di depan lorong sekolahku. Masih terekam dalam memori, aku mengenakan baju batik, dengan rok putih biru yang sedikit di atas lutut. Rambut panjangku kugerai dan tampak acak-acakan, peluh tak kenal lelah menetes di pelipisku. Kukenakan jam karet berwarna biru yang menunjukkan pukul dua lewat sepuluh menit. Dua jam setengah setelah sekolahku berakhir. Dan dua jam pula telah kuhabiskan waktuku untuk latihan dance yang akan tampil empat hari kemudian.

Nanti latihan lagi roboticnya, badanmu masih kaku.

Aku menghela napas. Mengingat perkataan Kak Deta yang menginstruksikan agar aku terus latihan. Cukup lelah, memang. Tiga belas hari lamanya kuhabiskan waktu untuk latihan meskipun perkembangan gerakan robotic-ku tak kunjung tiba. Rasanya ingin kubenturkan saja kepalaku, pusing dibuatnya. Belum lagi angkutan umum yang belum juga datang. Ingin sekali rasanya aku menelepon pacarku untuk menjemputku, tapi aku sadar, pacarku tidak punya handphone, handphone nya masih diservis kala itu.

Kemudian aku menoleh ke arah kanan, ke arah rumah berpagar coklat yang di balik pagar tersebut, berdiri sosok yang dibalut seragam SMA. Pagar tersebut hanya setinggi dadanya. Namun kukira lelaki tersebut tak terlampau tinggi. Kulitnya putih bersih seperti susu, bibirnya merah, sorot matanya teduh, dengan rambut sedikit ikal. Mungkin, ia adalah pria tertampan yang pernah kutemui. Ia tersenyum padaku. Sekali lagi aku katakan, tersenyum! Ya, tersenyum. Aku mengetuk dahiku beberapa kali, sakit, ternyata bukan mimpi. Lalu kubalas senyumnya tipis, ia tambah sumringah dan menampakkan deretan gigi putihnya. Matanya masih tak lepas dari mataku sehingga tanpa kusadari, sebuah angkutan umum telah berdiri di depanku.

"Pakjo, Dek?"

Aku mengangguk, lalu menaiki angkutan umum tersebut. Aku melihat ke jendela kaca dan matanya masih mengekoriku. Aku tersenyum lagi, dan ia masih tersenyum. Tuhan, mimpi apa aku semalam?

Hari berikutnya, aku bertanya dengan teman sekelasku perihal lelaki itu. Lelaki yang tinggal di rumah berpagr coklat di depan lorong sekolah. Temanku menjelaskan bahwa rumah tersebut merupakan kos putra dan ia menyuruhku untuk menanyakan pada Wulan, gadis kelas 7.4 yang kabarnya dekat dengan seluruh anak kos putra disana.

Dengan tergesa aku menghampiri Wulan, untungnya aku mengenali gadis itu. Ia menanyakan ciri-ciri lelaki yang kutemui dan selang beberapa detik, Wulan menyebutkan.

"Lelaki itu pasti Kak Jerry. Ia kelas 12 di STM" mata Wulan mulai menerawang "Hanya Kak Jerry yang berkulit putih, dan ber-tahi lalat di dagu bawahnya. Kamu search saja Facebooknya, Jerry Yan. Dia keturunan Bandung-Pagaralam, dan orangtuanya sangat kaya. Beruntung sekali kalau kamu bisa mendapatkannya"

Aku tertegun. Tidak, bagaimana mungkin aku rela mendekati pria yang belum kukenal dengan jelas sedangkan aku telah berpacaran beberapa hari dengan pacar pertamaku. Aku memutar bola mataku, berpikir lebih jernih. Setelah mengucapkan terima kasih pada Wulan, aku mencari Facebooknya di rumah. Ketemu. Dan ia telah berteman denganku.

Aku membaca history chat, ia menyapaku beberapa kali namun tak pernah kubalas. Lalu aku mengetikkan satu kata bertajuk 'Kak?', agar mungkin aku bisa mengenalnya lebih jauh lagi.

Sehari, dua hari, hingga seminggu chatku tidak dibalas, lalu kulihat di profil Facebooknya, ternyata ia telah berpacaran dengan Nabila. Dan Nabila yang kukenal, Nabila teman SD-ku. Aku memupuskan harapan untuk berkenalan lebih jauh dengannya. Sejak saat itu, tak lagi terlintas di benakku tentang dia.

Dua tahun kemudian, di hari kelulusan SMP, setelah mencorat-coret baju putihku, aku mampir di kedai Pempek di depan Sekolah Dasar. Kulirik Dhila, temanku dari kelas 9.1 yang tampak gelisah melirik layar handphonenya.

"Kenapa, Dhil?" tanyaku mantap.

Ia menghela napas berat "Pacar aku. Gakbisa dihubungin. Katanya mau ngajakin jalan setelah ini."

Beberapa detik kemudian, dering sms Dhila bergetar. Disana tertulis : Iya otw syg :* gamungkin angkat telp sambil nyetir.

Dhila terlonjak girang. Aku malah jijik melihat sms itu. Entahlah, menurutku terlalu berlebihan.

"Pokoknya kamu bantu aku liatin mobil Jazz Merah yang stop disini. Itu pacar aku soalnya"

Aku mengangguk. Sekitar lima menit kemudian, aku melihat Jazz Merah yang stop di depan Sekolah Dasar. Sang empunya mobil keluar dan menatap sekeliling dengan ekspresi mencari. Aku sendiri melongo, dan rahangku hampir ingin lepas dari peraduannya.

Kak Jerry.

Aku tidak salah lihat. Ia tersenyum. Senyuman terindah yang pernah tercipta untukku. Senyum yang sama, namun senyuman itu bukan lagi untukku, melainkan untuk Dhila.

"Cie Dhil, pacar kamu ganteng juga" teman-temanku mulai mengomentari. Ingin rasanya kuungkapkan bahwa pria itu juga pernah tersenyum padaku. Lalu Kak Jerry memotretku dalam sorot matanya, aku menatapnya. Betapa sorot mata itu sungguh kukenal. Kukira, ia tidak mengenaliku lagi, karena rambut panjangku telah kututup dengan kain putih yang melapisi rambutku. Ia lalu berbalik arah, kutatap punggung itu lama, menjauhiku sembari menggenggam tangan gadis yang kukenal dan memasuki mobilnya. Aku tertunduk. Lika, teman sekelasku, bertanya.

"Kamu kenapa?"

"Lik, inget gak waktu kelas 7 dulu aku pernah cerita disenyumin sama cowok di kos-an putra berpagar coklat di depan lorong sekolah?" aku berhenti sejenak, menangkap ekspresi Lika yang mengangguk ragu "Ya, lelaki itu orangnya"

Lika tercengang. Bibirnya bungkam. Senyuman terindah itu merupakan senyuman yang tak pernah kulupa, dari seseorang paling tampan yang pernah kutemui.

Komentar

Postingan Populer