The Story Only You Didn't Know
Dear diary,
Mungkin banyak pertanyaan yang timbul apabila setiap insan melihatku berjalan dengan lelaki yang bukan mahramku. Bagaimana mungkin gadis yang jilbabnya terjulur panjang, berjalan dengan lelaki yang sekalipun bukan mahramnya? Kadangkala aku sadar, aku tidak boleh membiarkan hal ini terus menerus terjadi padaku. Namun aku juga sadar, bahwa aku nyaman dengan mereka. Kuulangi lagi, nyaman.
Sejak kecil, aku memang telah memiliki saudara laki-laki. Setiap hari, teman-teman adikku, yang otomatis juga jadi temanku, bermain ke rumahku. Tak heran, aku dulu sering bermain kelereng dan layang-layang, juga gemar sekali memanjat pohon. Aku suka berpetualang, berjalan jauh ke hutan dengan anak laki-laki, membakar ubi, berenang di lebak, dan aku juga suka berlarian di atas pagar beton yang menurut sebagian orang begitu membahayakan. Dulu, rambutku hanya sedikit di bawah telinga, badanku kerempeng, aku mengenakan kalung tengkorak khas anak laki-laki dan gelang berwarna hitam yang juga mencerminkan anak laki-laki. Setiap hari, hidupku tak lepas dari gerombolan anak laki-laki yang melindungiku. Hingga akhirnya aku bertemu cinta pertamaku dan mengubah seluruh image yang melekat di tubuhku. Aku menjadi sosok gadis yang sesungguhnya. Dan banyak yang berkata bahwa Wanda telah berubah menjadi gadis yang sangat feminin. Percaya tak percaya, itulah yang terjadi.
Ketika memasuki masa pubertas, aku juga memiliki banyak sahabat lelaki. Untuk sekadar berbagi cerita, atau mereka yang bercerita padaku. Menurutku, hanya anak laki-laki yang bisa menemaniku bergadang di dunia maya. Dan cerita-ceritaku juga tidak mereka beberkan, itulah sebabnya aku nyaman dengan mereka. Hingga akhirnya dulu aku sering di-cap sebagai perebut pacar orang. Konyol sekali. Padahal aku hanya bersahabat, tidak lebih.
Aku juga sering membangun persahabatan dengan para gadis. Namun menurutku terlalu banyak drama di dalamnya. Ceritaku kerap kali dibeberkan, aku malah dituduh menggoda gebetan sahabatku, atau mereka berpura-pura baik di depanku. Meskipun ada juga beberapa gadis yang tidak seperti itu, dan sejujurnya aku sekarang tak tahu lagi dimana mereka.
Yang kurasakan adalah, ketika ke kantin, meskipun kami berjalan bersama-sama, teman-teman wanitaku seakan memiliki lingkaran sahabat masing-masing, yang aku sendiri tak masuk di dalamnya. Aku sungguh merasa sedih, seakan aku adalah orang yang paling tidak diinginkan. Beberapa kali aku ketahuan tetanggaku ketika aku berjalan ke mall dengan laki-laki seusiaku, mereka malah berkata pada ibuku bahwa pacarku selalu gonta ganti. Coba pikir saja, aku yang tidak ingin pacaran malah dituduh memiliki pacar yang gonta ganti. Aku menjelaskan pada ibuku bahwa mereka hanyalah temanku, dan ibuku pun mengenal mereka. Jadi tidak ada yang salah, kan?
Padahal aku ingin sekali memiliki sahabat perempuan, ingin sekali. Tetapi belum pula kutemukan satu diantara ribuan gadis di bumi ini. Mungkin ada, namun kami terikat jarak.
Dear diary, apakah mungkin jika ada yang menyukaiku, mereka akan mundur karena banyak laki-laki yang dekat denganku?
Entahlah, kuharap mereka mengerti bahwa memang hampir setiap hari hidupku selalu dikelilingi laki-laki, mulai dari teman sebangkuku di sekolah, atau teman ke kantin, atau bahkan aku sering menghabiskan waktu pergi kemanapun dengan ayahku.
Dari goresan hati yang paling dalam,
Cerita yang mungkin belum pernah mereka ketahui,
Ditulis oleh : Wanda Anindita
Pukul dua belas lewat sepuluh detik, di sudut kamar yang ditemani secercah lampu remang.
Mungkin banyak pertanyaan yang timbul apabila setiap insan melihatku berjalan dengan lelaki yang bukan mahramku. Bagaimana mungkin gadis yang jilbabnya terjulur panjang, berjalan dengan lelaki yang sekalipun bukan mahramnya? Kadangkala aku sadar, aku tidak boleh membiarkan hal ini terus menerus terjadi padaku. Namun aku juga sadar, bahwa aku nyaman dengan mereka. Kuulangi lagi, nyaman.
Sejak kecil, aku memang telah memiliki saudara laki-laki. Setiap hari, teman-teman adikku, yang otomatis juga jadi temanku, bermain ke rumahku. Tak heran, aku dulu sering bermain kelereng dan layang-layang, juga gemar sekali memanjat pohon. Aku suka berpetualang, berjalan jauh ke hutan dengan anak laki-laki, membakar ubi, berenang di lebak, dan aku juga suka berlarian di atas pagar beton yang menurut sebagian orang begitu membahayakan. Dulu, rambutku hanya sedikit di bawah telinga, badanku kerempeng, aku mengenakan kalung tengkorak khas anak laki-laki dan gelang berwarna hitam yang juga mencerminkan anak laki-laki. Setiap hari, hidupku tak lepas dari gerombolan anak laki-laki yang melindungiku. Hingga akhirnya aku bertemu cinta pertamaku dan mengubah seluruh image yang melekat di tubuhku. Aku menjadi sosok gadis yang sesungguhnya. Dan banyak yang berkata bahwa Wanda telah berubah menjadi gadis yang sangat feminin. Percaya tak percaya, itulah yang terjadi.
Ketika memasuki masa pubertas, aku juga memiliki banyak sahabat lelaki. Untuk sekadar berbagi cerita, atau mereka yang bercerita padaku. Menurutku, hanya anak laki-laki yang bisa menemaniku bergadang di dunia maya. Dan cerita-ceritaku juga tidak mereka beberkan, itulah sebabnya aku nyaman dengan mereka. Hingga akhirnya dulu aku sering di-cap sebagai perebut pacar orang. Konyol sekali. Padahal aku hanya bersahabat, tidak lebih.
Aku juga sering membangun persahabatan dengan para gadis. Namun menurutku terlalu banyak drama di dalamnya. Ceritaku kerap kali dibeberkan, aku malah dituduh menggoda gebetan sahabatku, atau mereka berpura-pura baik di depanku. Meskipun ada juga beberapa gadis yang tidak seperti itu, dan sejujurnya aku sekarang tak tahu lagi dimana mereka.
Yang kurasakan adalah, ketika ke kantin, meskipun kami berjalan bersama-sama, teman-teman wanitaku seakan memiliki lingkaran sahabat masing-masing, yang aku sendiri tak masuk di dalamnya. Aku sungguh merasa sedih, seakan aku adalah orang yang paling tidak diinginkan. Beberapa kali aku ketahuan tetanggaku ketika aku berjalan ke mall dengan laki-laki seusiaku, mereka malah berkata pada ibuku bahwa pacarku selalu gonta ganti. Coba pikir saja, aku yang tidak ingin pacaran malah dituduh memiliki pacar yang gonta ganti. Aku menjelaskan pada ibuku bahwa mereka hanyalah temanku, dan ibuku pun mengenal mereka. Jadi tidak ada yang salah, kan?
Padahal aku ingin sekali memiliki sahabat perempuan, ingin sekali. Tetapi belum pula kutemukan satu diantara ribuan gadis di bumi ini. Mungkin ada, namun kami terikat jarak.
Dear diary, apakah mungkin jika ada yang menyukaiku, mereka akan mundur karena banyak laki-laki yang dekat denganku?
Entahlah, kuharap mereka mengerti bahwa memang hampir setiap hari hidupku selalu dikelilingi laki-laki, mulai dari teman sebangkuku di sekolah, atau teman ke kantin, atau bahkan aku sering menghabiskan waktu pergi kemanapun dengan ayahku.
Dari goresan hati yang paling dalam,
Cerita yang mungkin belum pernah mereka ketahui,
Ditulis oleh : Wanda Anindita
Pukul dua belas lewat sepuluh detik, di sudut kamar yang ditemani secercah lampu remang.

Komentar
Posting Komentar