Kehilangan Ide
"Argh!"
Aku sengaja membanting novel-novel yang sudah berulang kali aku baca. Entahlah, mengapa sudah hampir beberapa bulan ini aku terpuruk. Aku seolah lenyap tak pernah lagi melakukan keseharianku. Seolah rentetan imajinasi-imajinasi yang aku susun sebelumnya hanya bayang semu yang tak pernah nyata. Hanya sesuatu yang tak akan pernah bisa di baca.
Sekilas aku melirik post it yang tertempel di depan pintu lemari pakaianku. Di sana tertempel : 'Resolusi 2014, Menerbitkan Novel'. Tapi sekali lagi aku melihat kenyataan, aku tidak tahu apa yang harus aku tulis, dan aku juga tidak tahu apa yang harus aku rangkai. Sekali lagi aku terdiam, menyadari perjalanan hidupku yang hampa. Tidak ada lagi cerita-cerita yang biasanya aku bagikan.
Tak lama, aku menilik masa lalu. Masa lalu di mana inspirasi selalu berseliweran ke sana ke mari di otakku. Di sana kutemukan sebongkah inspirasi. Ya, sebongkah inspirasi yang tiap harinya selalu mampu aku curahkan dalam rangkaian cerita. Aku menemukan 'mereka', orang-orang yang sempat jadi pewarna dalam layar monokrom hatiku.
"Kenapa nggak mencintai salah satu dari mereka lagi aja, Za? Lagian, dengan mencintai mereka kan, kamu bisa dapet inspirasi?"
Kata-kata Rea masih terus terngiang di otakku. Sejenak aku berpikir, benar apa ucapan Rea. Tetapi bukankah mencintai itu tidak bisa di paksa, memaksa, dan terpaksa? Dengan mencintai salah satu dari mereka lagi, aku memaksakan diriku sendiri. Sedangkan cinta datang tanpa di undang, tiba-tiba, dan mungkin sering hadir di saat kau sendiri yang tidak menyadarinya.
Bisa jadi, semenjak mereka pergi, aku merasa kehilangan. Aku memang butuh inspirasi, tetapi aku tidak ingin mereka kembali. Tuhan, apa lagi yang harus aku lakukan? Kehilangan ide atau inspirasi itu merupakan titik tersulit menurutku. Aku suka menulis, dan 'mereka' yang merampas ide-ide itu. Tuhan, apakah benar dengan mencintai, aku bisa menemukan inspirasiku kembali? Jika begitu, izinkan aku mencintai lagi, Tuhan.. Tumbuhkan rasa sukaku pada seseorang yang tepat.
Aku juga bingung. Aku berkata bahwa aku telah menyukai seseorang. Tetapi, mengapa belum ada setitik inspirasi yang mencuat dari tiap celah otakku?
Tuhan, turunkan sosok kaum Adam yang mampu jadi inspirasiku lagi.
Aku sengaja membanting novel-novel yang sudah berulang kali aku baca. Entahlah, mengapa sudah hampir beberapa bulan ini aku terpuruk. Aku seolah lenyap tak pernah lagi melakukan keseharianku. Seolah rentetan imajinasi-imajinasi yang aku susun sebelumnya hanya bayang semu yang tak pernah nyata. Hanya sesuatu yang tak akan pernah bisa di baca.
Sekilas aku melirik post it yang tertempel di depan pintu lemari pakaianku. Di sana tertempel : 'Resolusi 2014, Menerbitkan Novel'. Tapi sekali lagi aku melihat kenyataan, aku tidak tahu apa yang harus aku tulis, dan aku juga tidak tahu apa yang harus aku rangkai. Sekali lagi aku terdiam, menyadari perjalanan hidupku yang hampa. Tidak ada lagi cerita-cerita yang biasanya aku bagikan.
Tak lama, aku menilik masa lalu. Masa lalu di mana inspirasi selalu berseliweran ke sana ke mari di otakku. Di sana kutemukan sebongkah inspirasi. Ya, sebongkah inspirasi yang tiap harinya selalu mampu aku curahkan dalam rangkaian cerita. Aku menemukan 'mereka', orang-orang yang sempat jadi pewarna dalam layar monokrom hatiku.
"Kenapa nggak mencintai salah satu dari mereka lagi aja, Za? Lagian, dengan mencintai mereka kan, kamu bisa dapet inspirasi?"
Kata-kata Rea masih terus terngiang di otakku. Sejenak aku berpikir, benar apa ucapan Rea. Tetapi bukankah mencintai itu tidak bisa di paksa, memaksa, dan terpaksa? Dengan mencintai salah satu dari mereka lagi, aku memaksakan diriku sendiri. Sedangkan cinta datang tanpa di undang, tiba-tiba, dan mungkin sering hadir di saat kau sendiri yang tidak menyadarinya.
Bisa jadi, semenjak mereka pergi, aku merasa kehilangan. Aku memang butuh inspirasi, tetapi aku tidak ingin mereka kembali. Tuhan, apa lagi yang harus aku lakukan? Kehilangan ide atau inspirasi itu merupakan titik tersulit menurutku. Aku suka menulis, dan 'mereka' yang merampas ide-ide itu. Tuhan, apakah benar dengan mencintai, aku bisa menemukan inspirasiku kembali? Jika begitu, izinkan aku mencintai lagi, Tuhan.. Tumbuhkan rasa sukaku pada seseorang yang tepat.
Aku juga bingung. Aku berkata bahwa aku telah menyukai seseorang. Tetapi, mengapa belum ada setitik inspirasi yang mencuat dari tiap celah otakku?
Tuhan, turunkan sosok kaum Adam yang mampu jadi inspirasiku lagi.

Komentar
Posting Komentar