Yang Seharusnya Tak Pernah Datang
"Sel, aku pergi dulu ya. Nanti kalo ada waktu luang aku ke sini lagi"
Punggung itu menjauh, diikuti dengan senyumnya yang terasa hambar sekali menurutku. Aku hanya bisa menyunggingkan kedua sudut bibirku kecil-kecil dengan sedikit anggukan pelan. Menyadari kepergiannya, menyadari punggung yang kekar itu menjauh dari tangkapan mataku, sungguh membuatku gamang. Di balik semburat jingga yang jadi ornamen di langit barat, aku menyimpan jutaan rasa. Jutaan rasa yang hanya bisa ku persembahkan untuk sosok yang selama ini mencorat-coret kertas putih di hidupku.
Key. Dia Key. Key teman masa kecilku. Key yang dengan caranya sendiri mampu mengalirkan kekuatan magis di dalam sukmaku. Yang jadi obat penenang paling ampuh ketika aku terjatuh, dan jadi pewarna dalam tiap sketsa yang terlukis. Key lebih tua setahun dari aku. Cowok berwajah oriental itu memang bisa ku andalkan untuk menjadi seorang panutan. Semenjak mama meninggal sepuluh tahun yang lalu—saat itu usiaku masih empat tahun, Key selalu datang menemaniku bermain, menghibur sepi yang kurasakan, dan jadi alasan mengapa aku mampu melukis tawa. Papa sudah menikah lagi dengan wanita yang aku sendiri bahkan tidak tahu seluk beluknya semenjak usiaku lima tahun, setahun setelah kepergian mama. Semenjak papa menikah lagi, ia jadi jarang pulang. Maklum saja, sekarang ia memiliki dua rumah sekaligus. Dan aku benar-benar tidak ingin berbaur dengan wanita itu hingga sekarangpun. Oleh karena itulah, Key, tetanggaku, orang yang hidup bersama denganku, orang yang tumbuh bersamaku, menjadi sebuah permata antik untukku. Tanpa Key, pepatah "You can buy house but you can't buy home" terasa sangat nyata di benakku.
Key tahu benar hobiku. Aku suka bermain bulu tangkis sejak kecil, dan ia yang selalu menemaniku bermain di balkon paling atas rumahku. Key yang mengajariku memasak, menata rumah, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan wanita pada umumnya, hingga aku benar-benar kagum pada Key. Ia bisa jadi dua sosok sekaligus dalam hidup yang kujalani, sebagai papa, juga mama.
Key tinggal di sebelah rumahku dan ia adalah anak bungsu, tetapi kelakuannya bahkan tidak seperti anak bungsu pada umumnya. Key benar-benar dewasa. Ia paham bagaimana caranya menenangkan perasaanku.
Kebersamaan kami menumbuhkan suatu rasa yang tak tersirat dalam benakku. Suatu rasa yang mungkin—benar—jika hanya aku yang merasakannya. Suatu rasa yang tak mungkin terbalas. Karena aku tahu, mungkin, aku terlalu egois jika ingin memilikinya sepenuhnya. Aku harus sadar, aku harus paham, bahwa bukan aku yang di miliki Key. Aku bukan hak penuh Key. Key milik Lana, teman SMA-nya baru-baru ini.
Terkadang benakku sungguh perih ketika menyadari kenyataan bahwa Key bukanlah Key yang dulu lagi. Key bukan anak SMP yang selalu pulang bersama denganku ketika pulang sekolah. Key bukan lagi anak-anak yang mampu menemaniku bermain seharian. Key bukan lagi Key yang dulu.
Pernah suatu ketika, di selang hari, ketika senja belum mentereng menampakkan warna jingga kecoklatan khasnya. Key mengajakku bertemu Lana, dan teman-teman SMA-nya yang lain tentunya. Aku pikir, Key tetap memperlakukan aku seperti ia biasanya memperlakukan aku. Tetapi tidak, aku merasa.. Aku bukan berjalan dengan Key yang sama dengan Key yang selalu menemaniku bermain bulu tangkis. Aku merasakan Key yang berbeda. Benar-benar seperti bukan Key. Mungkin hanya perasaanku, tetapi itu nyata, Key tidak lagi sama. Aku seperti berjalan dengan orang lain. Dan aku di sana berperan sebagai orang ketiga, pengacau, orang yang sama sekali tak pernah Lana harapkan untuk hadir dalam kehidupannya dan Key. Orang yang benar-benar tidak berguna lagi dalam kehidupan Key.
Aku.. merasa kesepian sekarang. Ke mana Key yang biasanya menenangkan aku? Ke mana Key yang biasanya bertindak layaknya kakak kandungku sendiri? Ke mana Key yang dulu? Yang sering menyuapi ku makanan ketika aku tidak nafsu makan.
Key sekarang sering menghabiskan waktunya dengan teman-teman SMA-nya. Dan aku, tidak akan pernah di takdirkan untuk mengacaukan kehidupannya. Mungkin, takdir Key bukan denganku. Dan mungkin, Tuhan akan memberikan orang lain yang lebih daripada Key. Aku paham, seharusnya Tuhan punya rencana.
Key, mengapa di tinggalkanmu betapa perih kurasa? Entah seberapa lama lagi guratan luka ini akan sembuh sepenuhnya.
Key, mengapa kebersamaan kita menumbuhkan rasa? Key, maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk hanya bersahabat denganmu.
Key..
Kenapa kau seenaknya saja datang dan pergi dalam hidupku?
Punggung itu menjauh, diikuti dengan senyumnya yang terasa hambar sekali menurutku. Aku hanya bisa menyunggingkan kedua sudut bibirku kecil-kecil dengan sedikit anggukan pelan. Menyadari kepergiannya, menyadari punggung yang kekar itu menjauh dari tangkapan mataku, sungguh membuatku gamang. Di balik semburat jingga yang jadi ornamen di langit barat, aku menyimpan jutaan rasa. Jutaan rasa yang hanya bisa ku persembahkan untuk sosok yang selama ini mencorat-coret kertas putih di hidupku.
Key. Dia Key. Key teman masa kecilku. Key yang dengan caranya sendiri mampu mengalirkan kekuatan magis di dalam sukmaku. Yang jadi obat penenang paling ampuh ketika aku terjatuh, dan jadi pewarna dalam tiap sketsa yang terlukis. Key lebih tua setahun dari aku. Cowok berwajah oriental itu memang bisa ku andalkan untuk menjadi seorang panutan. Semenjak mama meninggal sepuluh tahun yang lalu—saat itu usiaku masih empat tahun, Key selalu datang menemaniku bermain, menghibur sepi yang kurasakan, dan jadi alasan mengapa aku mampu melukis tawa. Papa sudah menikah lagi dengan wanita yang aku sendiri bahkan tidak tahu seluk beluknya semenjak usiaku lima tahun, setahun setelah kepergian mama. Semenjak papa menikah lagi, ia jadi jarang pulang. Maklum saja, sekarang ia memiliki dua rumah sekaligus. Dan aku benar-benar tidak ingin berbaur dengan wanita itu hingga sekarangpun. Oleh karena itulah, Key, tetanggaku, orang yang hidup bersama denganku, orang yang tumbuh bersamaku, menjadi sebuah permata antik untukku. Tanpa Key, pepatah "You can buy house but you can't buy home" terasa sangat nyata di benakku.
Key tahu benar hobiku. Aku suka bermain bulu tangkis sejak kecil, dan ia yang selalu menemaniku bermain di balkon paling atas rumahku. Key yang mengajariku memasak, menata rumah, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan wanita pada umumnya, hingga aku benar-benar kagum pada Key. Ia bisa jadi dua sosok sekaligus dalam hidup yang kujalani, sebagai papa, juga mama.
Key tinggal di sebelah rumahku dan ia adalah anak bungsu, tetapi kelakuannya bahkan tidak seperti anak bungsu pada umumnya. Key benar-benar dewasa. Ia paham bagaimana caranya menenangkan perasaanku.
Kebersamaan kami menumbuhkan suatu rasa yang tak tersirat dalam benakku. Suatu rasa yang mungkin—benar—jika hanya aku yang merasakannya. Suatu rasa yang tak mungkin terbalas. Karena aku tahu, mungkin, aku terlalu egois jika ingin memilikinya sepenuhnya. Aku harus sadar, aku harus paham, bahwa bukan aku yang di miliki Key. Aku bukan hak penuh Key. Key milik Lana, teman SMA-nya baru-baru ini.
Terkadang benakku sungguh perih ketika menyadari kenyataan bahwa Key bukanlah Key yang dulu lagi. Key bukan anak SMP yang selalu pulang bersama denganku ketika pulang sekolah. Key bukan lagi anak-anak yang mampu menemaniku bermain seharian. Key bukan lagi Key yang dulu.
Pernah suatu ketika, di selang hari, ketika senja belum mentereng menampakkan warna jingga kecoklatan khasnya. Key mengajakku bertemu Lana, dan teman-teman SMA-nya yang lain tentunya. Aku pikir, Key tetap memperlakukan aku seperti ia biasanya memperlakukan aku. Tetapi tidak, aku merasa.. Aku bukan berjalan dengan Key yang sama dengan Key yang selalu menemaniku bermain bulu tangkis. Aku merasakan Key yang berbeda. Benar-benar seperti bukan Key. Mungkin hanya perasaanku, tetapi itu nyata, Key tidak lagi sama. Aku seperti berjalan dengan orang lain. Dan aku di sana berperan sebagai orang ketiga, pengacau, orang yang sama sekali tak pernah Lana harapkan untuk hadir dalam kehidupannya dan Key. Orang yang benar-benar tidak berguna lagi dalam kehidupan Key.
Aku.. merasa kesepian sekarang. Ke mana Key yang biasanya menenangkan aku? Ke mana Key yang biasanya bertindak layaknya kakak kandungku sendiri? Ke mana Key yang dulu? Yang sering menyuapi ku makanan ketika aku tidak nafsu makan.
Key sekarang sering menghabiskan waktunya dengan teman-teman SMA-nya. Dan aku, tidak akan pernah di takdirkan untuk mengacaukan kehidupannya. Mungkin, takdir Key bukan denganku. Dan mungkin, Tuhan akan memberikan orang lain yang lebih daripada Key. Aku paham, seharusnya Tuhan punya rencana.
Key, mengapa di tinggalkanmu betapa perih kurasa? Entah seberapa lama lagi guratan luka ini akan sembuh sepenuhnya.
Key, mengapa kebersamaan kita menumbuhkan rasa? Key, maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk hanya bersahabat denganmu.
Key..
Kenapa kau seenaknya saja datang dan pergi dalam hidupku?

Komentar
Posting Komentar