Sakura Untukku

Aku bukan keturunan kaum Hawa yang digilai kaum Adam. Bukan juga Juliet milik Romeo. Tentu saja parasku juga bisa di bilang pas-pasan. Sebelumnya, aku belum pernah di beri barang apapun oleh pria. Apapun. Ingat itu!. Mungkin kau tak percaya, tetapi demikian adanya. Hingga suatu ketika aku berangan bahwa sosok pria yang ku gilai selama ini memberiku setangkai Sakura, flora yang benar-benar jadi favoritku selama ini. Tapi mustahil, bukan? Pria yang aku suka bahkan tidak tahu jika aku menyukainya, apalagi ia tidak mengenal seluk beluk diriku. Baginya, aku hanyalah gadis yang kebetulan lewat dalam hidupnya kemudian mencintainya dalam diam.

Aku suka Sakura. Dan mungkin ia tidak tahu itu. Ia mungkin juga tidak tahu berapa tanggal lahirku, sebagaimana aku berusaha mengingat tanggal lahirnya yang ternyata lebih muda dari usiaku.
                                           
                                                                            ***

Tepatnya di hari ke sembilan bulan April, aku mendapati sesuatu tergeletak di laci mejaku. Setangkai Sakura imitasi, lengkap dengan tulisan yang tertera di atasnya, Untuk Stella, dengan tanda hati setelah kata 'Stella'. Dan tentu saja aku tidak bisa mengenali tulisannya karena sosok misterius itu menggunakan Microsoft Office Word untuk menulisnya. Siapa yang tahu aku suka Sakura? Siapa yang tahu aku penggila Sakura? Bisa kutebak, yang tahu bahwa aku penggila Sakura hanyalah pembaca setia blog-ku sendiri. Jadi, apakah ia pembaca setia blog-ku? Siapa dia, Tuhan?





Source : http://gambargambargratis.com/2012/gambar-setangkai-bunga-sakura/

Seminggu setelah tragedi tergeletaknya bunga Sakura di laci mejaku. Aku menemukannya lagi. Di hari yang sama seperti sebelumnya, rabu. Apa lagi ini, Tuhan? Apakah benar di balik semua ini ada sosok pria yang mengagumiku? Aku seminggu ini kerap kali tak mampu terlelap lebih awal seperti biasanya ketika mengingat sosok misterius yang bahkan wajahnya pun aku tidak tahu. Lagi-lagi aku berangan, seandainya saja yang memberiku setangkai Sakura imitasi itu adalah orang yang aku sukai selama ini. Orang yang kelasnya tidak jauh dari kelasku. Orang yang setiap hari bisa kulirik meskipun jauh, sembari menyunggingkan senyum simpulku. Orang yang mungkin setiap harinya tidak tahu bahwa aku mengintipnya diam-diam. Orang yang sering terpikirkan olehku sebelum aku benar-benar terlarut dalam buaian sang mimpi.

Dengan tekad bulat, aku ingin sekali melihat sang pengirim Sakura tersebut. Mungkin minggu depan, di hari yang sama, aku akan datang lebih awal.
           
                                                                                   ***

Mentari belum nampak mengintip dari ufuk timur. Jarum jamku masih menunjukkan pukul 05.25 , terlalu pagi untuk ukuran anak sekolah yang memulai apel pagi ketika pukul 06.30. Jantungku berirama tak karuan. Dengan segera aku mengayunkan kaki ke kelasku yang berada di lantai dua, tetapi apa yang aku terka berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Tidak ada siapa-siapa di kelasku, dan tidak ada bunga Sakura imitasi lagi di laci mejaku. Apa mungkin sang pengirim belum datang?

Aku memutuskan untuk bersembunyi di samping loker yang berada di depan kelasku. Kebetulan kelasku paling ujung. Jadi, aku tidak ketahuan berada di samping loker ini. Semenit, dua menit, sepuluh menit. Sekolah masih lengang, tidak ada satu makhluk kasarpun yang berseliweran di sini. Tiba-tiba mataku tertuju pada seseorang yang berjalan mendekat ke kelasku, menggunakan jaket yang tutupan kepalanya ia tutupkan di atas kepalanya sendiri, dan mengenakan masker berwarna hijau sehingga aku tidak mampu menangkap dengan jelas sosoknya. Setelah ia berhasil tiba masuk ke kelasku, refleks, kakiku terayun mengikutinya. Aku melihatnya berjalan menuju bangkuku, kemudian mengeluarkan setangkai Sakura yang di atasnya terdapat tulisan yang sama seperti tulisan-tulisan sebelumnya. Dengan gesit, aku menepuk pundaknya, ia kaget, ingin berlari, tetapi tanganku lebih cepat mencapai maskernya dan membukanya. Ternyata..

"Jadi.. kamu selama ini yang ngirimin aku Sakura-Sakura ini?" aku terperangah, sedikit kesal, atau benar-benar kesal, aku pun tak tahu.

Ia mengangguk dan semburat kecemasan terlukis jelas di wajahnya "Maafin aku Stel, atau mungkin kamu nggak suka ya? Kalo aku yang ngirim?"

Aku mendengus "Apa alasan kamu ngirimin Sakura-Sakura itu?!"

"Aku suka kamu, Stel"

Beberapa kali aku mengerjap. Kata Aku suka kamu terdengar begitu rancu ketika sesama jenismu yang mengucapkannya sendiri padamu.

"Suka... sebagai teman kan?" tanyaku ragu

Ia menggeleng "Nggak Stel, aku cinta, aku suka kamu. Suka layaknya seorang pria yang jatuh cinta pada wanita. Mungkin aku udah gak normal lagi, tapi aku sayang sama kamu, Stel"

"May.. Maya.." aku sedikit sesenggukan, air mataku tak mampu ku bendung lagi. Sulit kucerna akal sehatku, sulit aku menerima kenyataan pahit yang berbanding terbalik dengan apa yang aku inginkan. "Kamu tahu kan May kalo yang kamu lakuin itu salah?"

Siswi yang kelasnya berada dua lokal di depan kelasku itu menggeleng lagi. Ia kemudian berlari meninggalkan aku di tengah heningnya suasana pagi.

Maya, teman satu ekskulku yang selalu bersamaku. Teman yang sering ke kantin bersamaku ketika kami sedang dalam kegiatan ekskul Pramuka. Teman yang tidur satu tenda denganku. Teman satu reguku. Ternyata, ia menyukaiku?

Tuhan, cobaan apa lagi ini? Ke mana Sakura untukku? Sakura yang dalam imajinasiku di kirimkan oleh orang yang aku sukai. Ke mana Sakura untukku? Sakura yang selama ini jadi benda yang paling ku inginkan dari seorang pria yang ku sukai.

Dan akankah Sakura untukku memang tidak ada?







Komentar

Postingan Populer