Seres


Ketika kau mulai terjebak dalam sudut-sudut segi rumit yang ada di depanmu, apa yang kau lakukan? Bertahan? Diam? Atau mulai menerobosnya tanpa peduli apa yang akan kau hadapi selanjutnya?
Ini cerita tentang dia.
                                                                                 ***
Aku mengenal dia. Gadis itu. Baru setengah tahun aku mengenalnya, tetapi aku seolah telah paham dengan sikapnya yang selama ini tak pernah luput dari jangkauan mataku. Hmm.. Oke, panggil saja aku Putra. Aku terusik dengan kesehariannya. Eh, ralat. Aku tertarik untuk menelusuri hidupnya. Ralat lagi. Aku.. menyukainya. Ah, ralat! Kalau itu terlalu berlebihan. Tidak, umm.. aku tidak mencintainya, kau pasti sudah tahu maksudku. Hanya sekadar tertarik untuk ikut andil dalam dunianya.

Ia beda. Ia enerjik. Panggil saja ia Seres, seperti nama merk meises meskipun penulisannya berbeda. Pernah sesekali aku bertanya apa cita-citanya. Dengan wajah serius, ia mulai membuka pembicaraannya dengan ancang-ancang yang di buat-buat.

“Gue pengin jadi biji pepaya, Put”

Aku langsung menautkan kedua alisku sebagai tanda tanya. Dan tidak sampai lima detik, ia paham maksudku.

“Biji pepaya bisa tumbuh jadi pohon pepaya di mana aja” tukasnya sembari cengengesan tanpa dosa.

“Ah gue gak ngerti” gerutuku “Bisa tumbuh di mana aja? Berarti di dalam perut bisa donk?”

Ia berkacak pinggang. Berubah kesal. “Aih, bukan gitu maksud gue.  Kalo misalnya kita buang tuh 
biji pepaya, sembarangan di tanah, gak usah di apa-apain juga bakalan tumbuh kok jadi pohon pepaya” ia lalu membenarkan posisi duduknya. “Gini ya, meskipun kecil, tapi dia bisa beradaptasi di lingkungan manapun untuk tumbuh menjadi sebuah pohon.  Nah, gue pengin kayak dia, Put. Bisa adaptasi di manapun dia berada”

Aku mulai mengangguk mengerti. Unik juga pembawaan gadis itu. Meskipun ia sering berceloteh panjang lebar, selalu ceria, dan sering jadi bahan ledekan teman sekelas, bahkan jadi bahan kejahilan, ia tetap enteng-enteng saja menjalani hidup. Seakan tidak ada beban dalam hidupnya. Ia mengaku bahwa dirinya Story-teller. Walaupun jujur saja, aku ingin muntah mendengarnya. Bisa nggak sih dia pakai kiasan lain seperti ‘Tukang Cerita’? Karena julukan Story-teller terlalu mewah untuknya. Yah, meski ada benarnya juga sih, story-teller, dia bener-bener hobi banget cerita.

Saking hobinya cerita, kesan pertama orang ketika melihatnya itu, pasti menilai dia itu sosok yang transparan, suka cari perhatian, dan bisa di bilang dia ini tidak laku di mata cowok. Entah kenapa, padahal  menurutku ia cukup manis, meskipun tidak semanis Poppy Bunga. Ia juga cantik kok, meskipun tidak secantik Raisa. Over all, dia lumayan. Tidak terlalu jelek, sih. Tapi di bilang cantik, kejauhan. Di bilang jelek ya beda tipis aja. Aduh gimana ya bilangnya. Tapi tapi tapi, untuk masuk ke dalam kriteriaku, dia lebih dari cukup. 

Dia sering di sebut alay, anak lebay, gadis cabe-cabean, ah entahlah apa julukan setiap orang untuknya, yang penting, intinya begitu.  Aku juga bingung di mana letak orang-orang menganggapnya begitu. Ia tidak begitu narsis, atau langsung pose ketika melihat kamera. Ia tidak menggunakan 4 grids photo yang kata orang-orang adalah editan untuk gadis-gadis alay. Ia juga tidak menggunakan campuran huruf dan angka untuk menulis di sosial media. Cuma satu kekurangannya, ya itu, di manapun dia berada, dia pasti selalu ngomel gak jelas. Entah bicara dengan laptop, dedaunan kering, pernah sesekali, aku melihatnya mengobrol dengan jendela. Aku pikir gadis ini memang sudah di diagnosa positif tidak waras. Dan terkadang sifatnya yang seperti itu sering menghasilkan buah bibir orang-orang bahwa ia ingin cari perhatian. 

Tetapi di balik itu semua.. ia banyak menyimpan luka.

Aku sudah tiga bulan berteman dengannya di media sosial bernama Facebook. Tetapi tentunya bukan namaku yang sebenarnya. Nama “Putri Deanita Embun” yang kujadikan sebagai Facebook ke duaku untuk bermain game poker.  Tiga bulan aku mengenal seluk beluknya. Mengenal gadis itu secara keseluruhan. Ia memang ramah. Mulai dari percakapan kecil yang ku mulai. Sekarang, ia jauh lebih sering menghabiskan waktunya untuk mencurahkan segala isi hatinya padaku. Segala bebannya, seolah hanya ada aku teman terbaiknya.



Rumit memang hidup gadis itu. Beban yang di rangkulnya selalu jadi alasan mengapa ia tampak begitu kesepian. Aku sangat mengenal gadis itu semenjak ia banyak menceritakan semuanya padaku. Mengenai kedua orang tuanya, adiknya, bahkan orang lain yang selalu mencemoohnya. Seres, orang yang selalu ku lihat dengan senyuman dan sapaannya di pagi hari. Orang yang selalu tersenyum dan tetap tersenyum dengan ledekan orang lain tentang dirinya. Orang yang sepertinya biasa-biasa saja, sama seperti manusia normal lain pada umumnya. Tetapi persepsi orang lain tentang dirinya benar-benar salah. Seres hanya kesepian. Seres butuh banyak teman. Seres butuh tempat untuknya mengeluh. Seres butuh orang-orang yang mampu memberinya kekuatan. Terkadang, mendengar cerita Seres, hatiku selalu mencelos. Rumahnya bukan lagi jadi tempatnya berteduh dalam hujanan masalah, sekolah pun tak menjamin kebahagiaannya. Aku juga tidak tahu di mana tempat yang cocok untuk gadis itu. Seakan ia berada dalam sudut-sudut segi rumit yang ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya untuk keluar.

Seres, aku benar-benar ingin melindungimu. Tetapi aku sendiri bahkan tidak tahu caranya.
Seres, aku masih ada, menyayangimu. Meskipun kau masih merasakan kesepian.
Seres, aku ingin jadi penghapus sepi yang kau rasakan.
Seres, meskipun di balik tawa kau menyimpan ribuan luka, aku akan tetap jadi bagian hidupmu.



Komentar

Postingan Populer