Bilamana Pertiwi
Malam tatkala tanya bersemayam
Dalam dingin meringkuk sunyi
Menjelma jadi gaung yang berbisik
Bilamana pertiwi pudar dalam senja kesumba
Adakah masih jiwa yang pahami?
Realitas laksana belulang berserakan
Kosong dan egois
Ketika hening tercipta di antara raga yang bersisi
Tersenyum pada layar, bungkam pada sekitar
Jemarinya menari, multicahaya menyemat korneanya
Lalu hilang arah, dibutakan telaga segi empat itu
Apabila menjejak negeri seberang samudera
Dari sukma dapat merasa
Identitas mereka kuat tersisa dan terasa
Pertiwi mulai meringis dan terkoyak
Sedang semesta menikamnya perlahan
Bilamana pertiwi bertanya pada mereka yang bernaung
di pijakannya,
“Bisakah kaulihat andamku?”
Mereka melebur di udara
Diburamkan benda genggamannya
Bilamana pertiwi ingin tahu
Maka kuberitahu sesuatu lewat penaku
Benda satu genggaman itu berisi ruang bicara lewat
aksara
Benda satu genggaman itu berisi karakter dan spasi
Benda satu genggaman itu menghubungkan seisi bumi
Dalam detik yang berlari
Benda satu genggaman itu menyeret pikirmu jua
Satu jam digenggam, satu detik dirasa
Menepis kepekaan sekitar
Bilamana pertiwi ingin berkata
“Bermainlah, namun jangan jauh kauberlari
Aku tidak sedang dahaga
Kaulah yang tinggalkan aku bersama jelaga
Jangan terlena dengan nirwana
Akulah yang memberimu air, tanah, dan udara”
-A.

Komentar
Posting Komentar