Senandung Malam

Ada garis yang berpendar di matamu, sesuatu yang mengilustrasikan kolase momen kita. Malam ini aku masih mampu bersedekap dengan barisan kata yang pernah kauucap. Masih mengakar aroma parfum maskulinmu yang menyeruak, masih berdiri kokoh anak-anak tangga yang tidak kita hitung berapa jumlahnya, aku merindukanmu.

Saat aku menarikan aksara ini, ada sesuatu yang membuatku memutar memori antik di benakku. Mungkin, kenangan-kenangan itu belum dapat kujual. Aku masih bersenandung dengan hening malam, bising angin, peron kereta, dan lampu-lampu sepanjang jalan yang menyorot langkah kaki kita. Aku benci harus berkutat dengan asa-asa samar. Bagiku, mereka hanyalah gaung milik sang hening. Kadangkala aku berusaha memperlambat langkah kakiku agar aku menikmati sedetik lebih lama bersamamu. Aku egois, tapi aku menyayangimu.

Aku mencari jawaban dari pertanyaan retoris ini, apa yang sebenarnya tengah aku rasakan? Bolehkah aku, sejenak saja meminjam ruang di hatimu? Atau, aku tidak perlu meminjam ruang itu, mungkin ruang itu akan kauberikan untukku, entah bila. Pasalnya, aku mencoret laman ini agar kaubaca. Apabila kautelah membacanya, maka kautelah tahu bahwa aku mencintaimu. Kemarin, hari ini, esok, selamanya.

Bogor, 24 Mei 2017.
Malam ini tidak hujan.

Komentar

Postingan Populer