Hierarki Tertinggi



Seorang gadis bertanya, “Apa makna hierarki tertinggi?”
Dalam puing cerita dimulailah
Tentang dara miskin berbalut kain usang
 Menelusur sudut kota mencari-cari jawaban

Ia bertanya pada mega, modernisasi jawabnya
Di mana pandang hanya berbatas tuksedo kaum borjuis
Atau dress minim berenda yang diselip mutiara
Kemudian tumbuh sikap melupa pada budaya tanah lahirnya

Ia bertanya pada rembulan, globalisasi jawabnya
Ranah ini sudah tidak perawan
Bukan lagi ranah ini yang patut dipertahankan
Pancasila dasar negara, tanpa tahu makna dalamnya
Tidak perlu tahu, ujarnya

Ia bertanya pada sang awan, westernisasi jawabnya
Budaya timur memudar perlahan
Negara ini mudah dijamah, dipengaruhi, dan dipisahkan
Benteng pertahanan sudah retak pinggirnya

Gadis itu kembali ke gubuk
Bertanya pada selasar hatinya, “Apa makna hierarki tertinggi sesungguhnya?”
Realitanya mega, rembulan, dan awan dibutakan semesta
Selasar hati membuka memori lamanya
Tentang ia yang membawa Merah Putih dalam genggamnya
Lalu membawanya berkibar ke langit
Masih ada puing rasa cinta tersisa
Terhadap tanah lahir ini
Tempat tumbuh hingga usia bersemi

Mega, rembulan, dan awan sibuk menatap luar jendela
Sedang di dalam tengah dingin bergulat
Mengapa mereka tak coba hangatkan?
Padahal hierarki tertinggi ada pada jiwa yang peduli

-A.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer