Refleksi Dosa

"Aku pernah berangan untuk mengais asa, mempersiapkan sesuatu hingga bertahun lamanya, dan memusatkan seluruh sukma, waktu, pikir, dan raga untuk melantunkan asa-asaku pada semesta. Lalu kemarin hari aku ditampar realitas, aku terhuyung dalam jurang yang mungkin tak terjangkau oleh mega.  Mungkin aku akan merangkak lagi, atau aku tidak akan pernah kembali."

Aku pernah berangan menjadi gadis yang memimpin suatu pasukan. Gadis yang memimpin pasukan dengan tongkatnya dan menari-nari, ia melemparkan tongkat itu ke udara lalu menangkapnya kembali. Aku jatuh cinta dengan gadis itu, aku ingin sepertinya. Aku ingin seluruh orang memusatkan perhatiannya padaku, lantaran dahulu ragaku hanya abu-abu di tiap barisan massa. Aku ingin dianggap elok, setiap orang berkata aku tak sedikitpun elok dan mereka dengan jelas mengutarakannya di depanku. Aku ingin punya teman, aku tidak ingin dianggap gila, aku tidak ingin orang-orang kembali mengejek warna kulitku. Itu yang selalu aku inginkan dan pikiran itu selalu berpendar dalam otakku. Aku menginginkannya sejak kecil, sejak aku baru kali pertama belajar membaca.

Setiap hari sejak berada di bangku sekolah dasar, aku belajar memutar tongkat dan melemparkannya ke udara. Dahi dan tanganku luka, aku cedera. Insan Tuhan lainnya masih saja mengejekku. Di sekolah menengah pertama, aku bertemu 'gadis itu' dan ia banyak mengajariku teknik memimpin pasukan yang baik dan benar. Hingga suatu ketika, aku memilih salah satu sekolah menengah atas terbaik di kotaku, hanya untuk mewujudkan asaku. Aku berhasil masuk ke lingkaran itu, aku berhasil mengalahkan beberapa gadis di seleksi pertama, hingga di seleksi terakhir aku harus melepaskan asaku untuk selamanya. Untuk selamanya, kupertegas. Padahal, aku orang pertama yang sudah mampu melempar tongkat dengan baik ke udara. Aku orang pertama yang tahu teknik merapikan barisan untuk pasukan. Aku orang pertama yang tahu bagaimana cara menyiasati tongkat yang tidak bisa aku tangkap. Aku orang pertama yang bisa melakukan salam hormat dengan tongkatku. Aku orang yang memiliki suara paling bulat untuk memimpin pasukan. Aku tidak pernah absen dalam proses seleksi. Aku tidak sombong, aku berkata realitas. Hingga ternyata semesta memang kejam, ia tertawa padaku. Seluruh perjuanganku kalah dengan keelokan gadis-gadis lainnya. Maaf apabila aku mengutarakannya dengan jujur saat ini. Marah, campur aduk, benci, merasa sia-sia. Tetapi aku percaya bahwa Tuhan memiliki jalan yang paling baik untukku.

Hingga detik inipun, ketika melempar tongkat ke udara, aku merasakan kebahagiaan yang menyeruak dan aku merasakan tongkat itu menyatu dengan jiwaku.

***

Aku pernah berangan untuk menjadi siswa pertukaran pelajar. Aku mendaftar puluhan program sejak usiaku masih sangat belia. Dari yang  pesertanya ribuan menjadi ratusan, ratusan menjadi puluhan, puluhan menjadi satuan, dan angka satuan itu melemparku dari barisannya. Dari yang proses seleksinya memakan waktu hampir setahun hingga yang waktu seleksinya hanya selang waktu beberapa minggu. Aku pernah menjalani segalanya dan kegagalanku kembali terulang, aku gagal di seleksi terakhir. Mirisnya, orang-orang yang lolos adalah orang-orang yang berada dalam lingkaran pertemanan dekatku dan hanya aku yang belum memiliki kesempatan itu. Selalu seperti itu. Entah aku harus miris, atau aku harus merasa senang. Di sisi lain air mata ini tak mampu kubendung, di sisi lain pula hatiku bahagia lantaran teman-temanku yang memiliki kesempatan itu. Mirisnya lagi, kata 'semangat' selalu menguar untukku. Lantas satu pertanyaan, kapan kata 'selamat' akan menggantikan kata 'semangat'?

Aku pernah 'hampir' menjadi kandidat pertukaran pelajar, aku telah dinyatakan lolos. Aku tinggal menunggu keberangkatanku, namun naas untukku, program tersebut tidak diadakan di tahun kelolosanku.

Aku pernah lolos seleksi, hanya menunggu biaya kiriman dari orangtuaku, namun naas lagi untukku, orang tuaku bangkrut tiba-tiba sehingga aku tidak bisa melanjutkan program itu.

Aku selalu percaya Tuhan pasti menyiapkan sesuatu yang paling baik untukku, atas seluruh kegagalanku. Namun terkadang suatu hal mengusik lamunan, apakah dosaku pada Tuhan sudah sebanyak itu? Apakah kegagalanku adalah refleksi dosa-dosaku? Ataukah kegagalanku adalah batu loncatan dan proses pembelajaran?

Terkadang aku malu dengan teman-teman yang melihat kegagalanku dan selalu saja melihat aku terjatuh. Aku tidak ingin terjatuh lagi, aku sudah terlalu malu. Terkadang aku tidak ingin lagi berangan ataupun berasa, aku malu berkata pada semesta bahwa anganku setinggi itu dan anganku berbanding terbalik dengan kemampuan yang aku miliki. Aku menyadarinya.

Apakah... satu kesempatan saja tidak tersisa untukku?

Mengapa seleksi terakhir selalu berakhir seperti ini? Aku menyumpah serapahi diriku, aku mengutuk kebodohanku, aku bukannya tidak ingin bangkit lagi. Namun apabila kamu berada di posisiku, mungkin kamu akan tahu bagaimana rasanya penat. Dari tiap seleksi terakhir yang aku lewati, aku memetik banyak hal, aku belajar banyak hal, dan mungkin itu yang Tuhan inginkan dari penempatanku untuk gagal di seleksi terakhir. Mungkin usahaku belum sebesar orang lain, atau mungkin doaku masih tertahan di langit.

Aku mencoba melepas dan aku belajar ikhlas.

Komentar

Postingan Populer