Fatamorgana



Ada rentetan detik di masa
Senja beradu dengan hujan
Kereta beradu dengan lintasan
Langit beradu dengan petasan elektron di awan-awan
Semua estetika itu bukan fatamorgana dari Tuhan

Ada rentetan detik di masa
Aku bercumbu dengan imaji
Merasakan eksistensi seorang wanita pribumi
Namun angin utara sampaikan selembar kabar
Wanita itu direnggut asanya ketika belia
Wanita itu milik Herman Mellema
Wanita itu menjadi gundik dari putra bangsaku

Ia estetika yang dilukis Tuhan
Untuk bersemayam selamanya di relung sukma
Untuk bersuara atas hak-hak kaum Hawa
Untuk membuktikan kepada semesta bahwa
“Wanita bukan hewan peliharaan—
Dibeli, dikasihi, kemudian dimonopoli jati dirinya
Oleh beberapa jahanam”

Lalu ia melebur bersama angin utara
Menjadi fatamorgana
Ketika aku menyimpan nama dan angannya
Namun tak kumiliki raga dan sukmanya
Namanya masih tetap saja mengakar dalam pikirku

Depok, April 2017
Untuk Nyai Ontosoroh, tokoh fiksi dalam novel-novel Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer

-A.

Komentar

Postingan Populer